Sakramen Perjamuan Kudus
Pandangan para Reformator tentang Sakramen Perjamuan Kudus
Disusun oleh: Alveni, Sesilya, Yatafati
PENDAHULUAN
Dalam sejarah gereja, banyak
masalah-masalah yang terjadi dalam Kekristenan serta tantangan yang ada,
khususnya tentang doktrin. Pada masa reformasi, hal ini juga yang menjadi
tantangan bagi para reformator, yaitu bagaimana mengembalikan gereja dan ajarannya pada hakikatnya.
Salah satunya ialah tentang sakramen (yang dikenal sebagai puncak ibadah) yang
di dalamnya ada “Perjamuan Kudus”. Dalam karya tulis ini, kelompok mencoba
mengemukakan pandangan beberapa reformator tentang Perjamuan Kudus tersebut.
Pada dasarnya, penetapan untuk
melaksanakan Perjamuan Kudus yaitu dalam I Korintus 11:23-25. Perjamuan Kudus
merupakan perintah dari Yesus Kristus sendiri, sebagai suatu peringatan akan
kematian Kristus di kayu salib untuk penebusan dosa dan juga sebagai suatu
perjanjian yang dimeteraikan oleh darah Kristus. Perjanjian tersebut menunjuk
pada inisiatif Allah untuk keselamatan di dalamnya. Dalam Perjamuan Kudus, iman
merupakan sesuatu yang penting, dengan iman orang menerima perjanjian itu yaitu
meterai keselamatan bagi orang percaya.
Pada abad pertengahan, salah satu yang menjadi dasar para reformator
untuk melakukan reformasi ialah mengenai sakramen. Pada dasarnya Gereja Katolik
Roma mengakui bahwa sakramen-sakramen itu ada tujuh yaitu: baptisan, konfirmasi
(peneguhan), ekaristi (perjamuan kudus),
penebusan dosa, pengurapan orang sakit, penahbisan dan pernikahan.[1]
Bagi para reformator, dari ketujuh sakramen tersebut, hanya dua saja yang sakramen
disahkan oleh Perjanjian Baru sedangkan yang limanya dianggap tidak sesuai dan tidak
termasuk sebagai sakramen. Menurut Luther, hanya dua sakramen di dalam gereja
Allah yaitu baptisan dan roti, dengan alasan bahwa hanya di dalam dua sakramen
inilah kita menemukan tanda yang dilembagakan secara ilahi dan janji akan
pengampunan dosa.[2]
Zwingli juga mengatakan bahwa kedua sakramen ini sebagai tanda-tanda kesetiaan
Allah kepada umat-Nya dan janji anugerah-Nya untuk keampunan,[3]
dan lima sakramen lainnya ditolak. Calvin menegaskan bahwa sakramen harus di
dasarkan atas “janji dan perintah Allah” dan kedua sakramen (baptisan dan
perjamuan kudus) sebagai sakramen yang
tetap berkaku, dan yang lainnya ditolak.[4]
Sakramen merupakan akomodasi (bantuan) yang penuh anugerah bagi keselamatan.
Ketiga tokoh ini sama-sama menolak ketujuh sakramen dan hanya dua yang diterima
karena hanya itu yang benarkan dalam Alkitab sebagai sakramen.
Dari kedua sakramen, hanya satu bagian saja yang menjadi pembahasan yang
akan diuraikan, yaitu Perjamuan Kudus.
A.
Padangan
Reformator tentang Perjamuan Kudus
Bertolak dari penjelasan di atas, maka
pada bagian ini diuraikan tentang pandangan dari para reformator, khususnya
tentang Perjamuan Kudus. Tentang bagaimana para reformator menyampaikan setiap
tanggapan serta pandangan dari setiap mereka terhadap ajaran Gereja Katolik
Roma mengenai Perjamuan Kudus.
1.
Martin
Luther
Dalam Gereja Katolik Roma, Perjamuan
Kudus dianggap sebagai pusat dalam ibadah. Perjamuan Kudus merupakan
persembahan atau korban sejati sebagai pengganti korban Israel, oleh gereja.
Sehingga dalam perayaan perjamuan, hosti (yang dianggap Kristus hadir di
dalamnya) menjadi sasaran penyembahan. Selain itu juga, Gereja
Katolik Roma mengajarkan tentang perjamuan kudus yaitu transsubstansiasi. Transsubstansiasi
(trans artinya berubah, dan substansi artinya
hakikat atau zat). Jadi Transsubstansiasi perubahan bentuk yaitu roti dan anggur
serta merba berubah menjadi daging dan darah Kristus.[5]
Dalam ajaran Katolik dianggap bahwa perjamuan kudus itu bukan hanya lambang
kematian Kristus, tetapi anggur dan roti itu berubah menjadi darah dan daging
Kristus. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Luther untuk mengadakan reformasi
(secara khusus tentang perjamuan).
Semua ajaran tersebut ditolak oleh
Martin Luther (maupun reformator lainnya). Luther menolak cara teologi Katolik
yang menjelaskan kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus dalam ajaran tentang
Transsubstansiasi.[6] Dalam
ajaran Luther, (bahkan sampai pada aliran Lutheran) perjamuan kudus disebut
konstansiasi (con artinya bersama-sama; bebarengan; substansi: hakikat, zat).
Artinya: kedua unsur perjamuan, yaitu roti dan anggur, mencakup dua hakikat
(substansi) sekaligus: hakikat jasmani, tetap sebagai roti dan anggur, dan
hakikat rohani, sebagai tubuh dan darah Kristus yang diterima peserta perjamuan
secara nyata.[7] Jadi
kehadiran nyata dari tubuh dan darah Kristus melalui roti dan anggur tetap
dipercayai oleh Luther.
Namun Luther lebih menonjolkan iman
dalam Perjamuan Kudus. Bagi Luther Perjamuan Kudus adalah tanda nyata atau
meterai bahwa keselamatan yang dijanjikan dalam Firman mengenai penebusan dosa
oleh Kristus pada kayu salib, benar-benar diberikan kepada orang yang
menyerahkan diri dalam iman kepada Allah yang rahmani. Tanpa iman, perjamuan
kudus menjadi tanda keselamatan yang tidak efektif.[8]
Seperti pernyataan Luther sendiri yang mengatakan bahwa: Sebab, di mana ada
firman dari Allah perjanjian, di situ mesti ada iman dari orang percaya yang menerimanya.
Karena itu, jelaslah bahwa keselamatan kita adalah atas inisiatif Allah sendiri
(tanpa usaha apapun dari pihak manusia), dan iman pada firman perjanjian
Allah-lah yang menjadi respon dari kita.[9]
Manusia tidak memperoleh keselamatan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik
atau dengan rajin menerima sakramen perjamuan kudus dari tangan gereja, tetapi
dengan menyerahkan diri dalam iman (sola fide yaitu hanya dengan iman) kepada
Allah yang menyelamatkan manusia hanya karena kasih karunia saja (sola gratia),
hanya karena Kristus.[10]
Ucapan
atau perbuatan manusia tidak dapat menghadirkan tubuh dan darah Kristus dalam
perjamuan. Ini harus diserahkan hanya kepada kemahakuasaan Allah dan Firman,
dalam penetapan dan pengaturan Yesus Kristus.[11]
Luther tetap memegang bahwa Perjamuan Kudus merupakan meterai keselamatan yang
telah dijanjikan Allah di dalam firman-Nya dan di dalamnya iman orang yang ikut
menerima Perjamuan Kudus menjadi sesuatu yang tidak dapat ditiadakan.
Berkaitan dengan penolakan Luther pada
transsubstansiasi dari ajaran Gereja Katolik Roma, maka ada banyak hal-hal lain
yang ditolak juga berkaitan dengan sakramen ini, diantaranya: pengadaan misa
bagi orang yang sudah meninggal (bagi Luther sakramen diberikan Allah kepada
orang hidup, bukan kepada orang mati), kesalehan kepada hosti[12]
(roti untuk dimakan bukan untuk disembah), dan larangan untuk tidak minum cawan
anggur.
Dalam hal ini, walaupun Luther menolak
transsubstansiasi yang diajarkan oleh Gereja Katolik Roma, ia percaya pada
kehadiran nyata dari tubuh dan darah Kristus, namun semuanya tidak dapat
dipisahkan dengan iman kepada Allah yang Mahakuasa.
2. Ulrich Zwingli
Zwingli menolak kehadiran yang nyata
dari tubuh dan darah Kristus, ia menegaskan bahwa roti dan anggur hanya lambang
dari tubuh dan darah Kristus. Bagi Zwingli Perjamuan Kudus merupakan peringatan
pengucapan syukur, pada waktu mana kita memperingati karya Kristus di kayu
salib. Ia juga berpendapat, bahwa “tubuh” dan “darah” adalah lambang untuk
keselamatan yang diperoleh Kristus dengan tubuh dan darah-Nya di kayu salib.[13]
Berdasarkan Matius 26:26, Zwingli berpendapat bahwa “seolah-olah” Kristus
berkata:
“Aku mempercayakan kepada kamu suatu
simbol penyembahan diri dan wasiat saya, untuk membangkitkan di dalam kamu
pengingatan akan Aku dan kebaikan-Ku kepadamu sehingga ketika kamu meihat roti
ini dan cawan ini, berbicara dalam perjamuan malam peringatan ini kamu boleh
mengingat Aku yang diserahkan untuk kamu, seakan-akan kamu melihat Aku di
hadapanmu seperti kamu melihat Aku sekarang makan bersama kamu”.[14]
Zwingli
beranggapan bahwa perjamuan kudus merupakan peringatan akan tubuh dan darah
Kristus. Dengan pernyataan tersebut, Zwingli tetap berpandangan bahwa perjamuan
kudus merupakan simbol dan untuk mengingat Kristus yang telah mati di kayu
salib. Selain itu juga, Zwingli berpendapat bahwa Perjamuan Kudus memperkuat
iman orang yang ikut merayakannya.
Walaupun demikian, Zwingli tidak
menyangkal hubungan antara perjamuan kudus dan keselamatan (maka jemaat
merayakan perjamuan kudus hanya untuk “memperingati” kematian Kristus pada kayu
salib demi keselamatan manusia), dan melalui perjamuan kudus iman orang percaya
makin diperkuat. Dalam arti bahwa Perjamuan Kudus merupakan peringatan akan
karya keselamatan dari Kristus Yesus yang telah mati di kayu salib. Pada akhirnya,
Zwingli menerima kehadiran Kristus pada waktu perayaan perjamuan kudus dalam
Roh Kudus, namun tidak terikat pada roti dan anggur (seperti pandangan Luther).
Kehadiran Kristus bukan melalui atau di dalam roti dan anggur melainkan di
tengah-tengah jemaat yang sedang menerima perjamuan kudus tersebut. Artinya
bahwa Kristus hadir di dalam hati orang-orang percaya.[15]
Kehadiran tersebut bukan kehadiran secara jasmani tetapi secara rohani, karena
tubuh Kristus telah ada di sorga. Karena itu, Zwingli pun tidak menerima bahwa
Perjamuan Kudus merupakan meterai keselamatan, Perjamuan Kudus hanyalah
simbolis.[16]
Untuk menerima apa yang diterima Kristus pada kayu salib yaitu penebusan yang
ditunjukkan kepada manusia, tidak perlu orang dipersatukan secara jasmani dengan
Kristus, namun penebusan itu hanya diterima dengan iman.
3.
Johanes
Calvin
Mengenai perjamuan kudus, Calvin
mengambil jalan tengah antara Luther dan Zwingli. Ia menolak bahwa Kristus
hadir secara jasmani dalam perjamuan Kudus dengan cara yang diajarkan Luther. Ia
juga menolak bahwa Perjamuan Kudus hanya tindakan “pengakuan” jemaat yang
memupuk semangat iman saja, seperti dikatakan Zwingli. Bagi Calvin, Perjamuan
Kudus adalah tanda yang diberikan Kristus mengenai keselamatan manusia, yang
memeteraikan keselamatan itu dalam diri orang percaya. Iman juga tidak dapat
dipisahkan di dalamnya. Terlepas dari iman, Perjamuan Kudus roti dan anggur
melulu. Akan tetapi dalam iman keselamatan itu menjadi begitu nyata, sehingga
Calvin mengatakan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan dengan tubuhnya
(karena tubuhnya ada di sorga) tetapi dalam Roh Kudus.[17]
Artinya bahwa Calvin hanya melihat kehadiran tubuh dan darah Kristus secara
rohani dalam roti dan anggur.[18]
Roti dan anggur itu sendiri tidak boleh dianggap sama saja dengan tubuh dan
darah yang ada di dalam surga itu, melainkan dianggap sebagai tanda dan meterai
anugerah dan kasih Tuhan di dalam Yesus Kristus.[19]
Dalam pandangannnya lagi Calvin mengatakan bahwa Perjamuan Kudus adalah tanda (dan
tidak hanya sekadar peringatan kematian Kristus, namun menambahkan sesuatu pada
iman orang percaya dan apa yang disampaikan dalam pemberitaan Firman), tetapi
bukan tanda kosong, sebab tanda ini diberikan Allah melalui Anak-Nya, supaya
orang percaya melalui roti dan anggur dipersatukan dengan tubuh dan darah
Kristus.[20]
Dalam Perjamuan Kudus, Kristus sungguh-sugguh hadir untuk menjadi satu dengan
orang-orang percaya, dan menguatkan iman mereka. Kristus membuat makanan
jasmani menjadi rohani, sehingga orang-orang yang ikut dalam Perjamuan Kudus
menerima apa yang telah diterima Kristus pada kayu salib, yakni pengampunan
dosa dan hidup yang kekal.[21]
Selain itu juga, Calvin menekankan
bahwa segala sesuatu yang dilakukan hanya untuk kemuliaan Allah, termasuk
perayaan perjamuan kudus. Dalam perayaan perjamuan kudus, Calvin menegaskan
bahwa harus dijaga ketat agar tidak diikuti oleh orang-orang yang mencemarkan
nama Allah lewat perilaku mereka yang tidak pantas ataupun lewat ajaran sesat
yang mereka anut.[22]
Dalam pengertian bahwa kesucian orang-orang yang ikut serta dalam atau yang
menerima perjamuan kudus harus tetap dijaga, karena kesucian itu sangat
penting.
B.
Perbandingan
antara Pandangan Reformator tentang Perjamuan Kudus
Dari berbagai
macam pandangan reformator tentang perjamuan kudus, tentu ada yang menjadi perbedaan
dan persamaan dalam setiap ajaran mereka. Maka dalam perbandingan ini, dapat
diketahui tentang persamaan dan perbedaan tersebut.
1.
Persamaan
Luther dan Calvin mempunyai pandangan
yang sama bahwa perjamuan itu adalah pertama-tama suatu pemberian Allah dan
bukan suatu perbuatan pengakuan manusia. Roti dan anggur bukanlah hanya lambang
saja, tetapi alat yang dipakai untuk memberikan tubuh dan darah Kristus yang
sebenarnya kepada kita.[23]
Mereka (maupun Zwingli) juga sama-sama menolak trassubstansiasi yang diajarkan
oleh Gereja Katolik Roma, namun keberadaan (eksitensi) roti dan anggur secara
lahiriah tidak dihilangkan oleh pengucapan rumusan perjamuan itu (roti dan
anggur tetap pada keberadaannya), dan rumusan yang diucapkan imam tidak punya
khasiat bagaikan mantera, mengubah substansi unsur-unsur perjamuan itu.[24] Luther
dan Calvin lebih menekankan bahwa perjamuan bukan hanya sekedar tanda, namun
sebagai meterai keselamatan karena di dalamnya Kristus hadir dan orang percaya
dipersatukan dengan Kristus melaluinya.
2.
Perbedaan
Penolakkan Luther terhadap Gereja Katolik
Roma mengenai transsubstansiasi (roti dan anggur serta-merba berubah menjadi
tubuh dan darah Kristus), dimana menurut Luther roti dan anggur mencakup kedua
hakikat (substansi) sekaligus: hakikat jasmani dan hakikat rohani, menjadi
perbedaan antara Luther dan Calvin. Calvin berpandangan bahwa dalam perjamuan
kudus, tubuh dan darah Kristus hadir secara rohani saja dalam roti dan anggur,
tidak secara jasmani. Karena bagi Luther, kendati roti dan anggur tetap berada
dalam substansinya, tetapi (sesuai dengan janji Kristus) serempak dengan itu
tubuh dan darah Kristus hadir secara nyata, baik secara rohani maupun secara
jasmani. Meskipun Calvin dan Zwingli sama-sama tidak percaya bahwa Kristus
hadir secara jasmani, karena tubuh Kristus ada di sorga, namun Zwingli tetap
memiliki pandangan yang berbeda yaitu bahwa Kristus hadir namun tidak terikat
pada roti dan anggur (Kristus hadir di tengah jemaat yang merayakan Perjamuan
Kudus).
Menurut Luther, dengan Kristus menjadi
manusia supaya seluruh manusia memperoleh keselamatan baik jiwa dan roh (bagi
Luther, tidak cukup jika hanya jiwa manusia yang diselamatkan), sedangkan
Zwingli menolak bahwa keselamatan, yang terutama menyangkut jiwa,
dikaitkan dengan hal-hal duniawi seperti
roti dan anggur (makanan jasmani: roti dan anggur, tidak mungkin menjadi tanda
atau meterai keselamatan). Bagi Luther kehadiran tubuh Kristus dalam perjamuan
menjamin[25]
keselamatan (dengan makan roti dan anggur orang dipersatukan secara rohani dan
jasmani dengan Kristus), sedangkan bagi Zwingli hal ini justru membahayakan
realitas keselamatan.[26] Luther
berpandangan bahwa sakramen adalah pemberian Allah, sedangkan Zwingli
berpadangan bahwa sakramen sebagai kewajiban jemaat untuk menaati perintah
Yesus. Calvin berbeda dengan Zwingli, yang mengatakan bahwa Perjamuan Kudus memupuk
semangat iman saja, tetapi bagi Calvin bukan hanya sekedar memperkuat iman
tetapi sebagai meterai keselamatan dalam diri orang percaya.
Pandangan-pandangan para reformator tentang sakramen khususnya perjamuan
kudus, yang terus berbeda dan berpegang pada pandangan masing-masing,
mengakibatkan perselisihan di antara reformator hingga kepada aliran-aliran
yang menganut ajaran mereka.
KESIMPULAN
Dari uraian
tentang Perjamuan Kudus menurut para reformator, maka kelompok memberi
kesimpulan bahwa Perjamuan Kudus bukan suatu syarat untuk mendapat keselamatan
namun merupakan meterai keselamatan itu sendiri. Dalam perayaan Perjamuan
Kudus, Kristus hadir dan orang yang mengikutinya tidak terlepas dari iman serta
memperkuat iman itu sendiri. Orang percaya dipersatukan dengan tubuh dan darah
Kristus melalui Perjamuan Kudus. Kehadiran Kristus bukan berarti bahwa roti dan
anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Dengan kata lain hanya dengan
iman orang mampu melihat bahwa roti dan anggur, telah menjadi tubuh dan darah
Kristus.
Perjamuan Kudus sangat berkaitan
erat dengan iman, sebab tanpa iman manusia tidak dapat merasahkan apa yang
sebenarnya terkandung
dalam Perjamuan Kudus itu. Perjamuan Kudus itu menjadi tanda keselamatan yang
diberikan Allah bagi manusia melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib. Hal ini
hanya bisa dirasakan oleh orang yang memiliki iman kepada Kristus, dengan
demikian Perjamuan Kudus bukan hanya sebagai sesuatu sakramen biasa saja tetapi
manusia dibawah untuk melihat dan merenungkan bagaimana pengorbanan Kristus Yesus di atas kayu
salib sebagai korban persembahan
yang
hidup yang tak bercela yang dilakukan-Ny
satu
kali dan untuk selama-lamanya. Sehingga keselamatan itu diterima oleh setiap orang yang percaya pada-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Aritonang,
Jan S.
2010
& 2016 Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung
Mulia
Aritonang,
Jan S. & Chr. de Jonge,
2009 Apa dan Bagaimana Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Berkhof
& Enklaar,
2009 Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung
Mulia
Dahlenburg,
1991 Konfensi-konfensi Gereja Lutheran, Jakarta:
BPK Gunung Mulia
Jonge,
Christiaan de,
2011 Apa itu
Calvinisme?, Jakarta: BPK Gunung Mulia
2003 Gereja Mencari Jawab (Kapita selekta sejarah gereja), Jakarta: BPK Gunung
Mulia
McGrath,
Alister E.
2016 Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia
[25] Jaminan yang dimaksudkan oleh Luther bukan berarti
pemahamannya kembali kepada gereja Abad Pertengahan (sakramen dapat memberi
keselamatan), namun ia bermaksud untuk menekankan bahwa dengan kehadiran
Kristus di dalam roti dan anggur, baik secara rohani maupun secara jasmani
menjadi tanda keselamatan yang lengkap. Dengan kehadiran Kristus juga, manusia
dipersatukan dengan Kristus, (Christiaan de Jonge, 2011:219). Istilah Jaminan (Pfand) untuk menekankan sifat pemberian
kepastian dari ekaristi (Alister,
2016:211)
Komentar
Posting Komentar